Dalam keseharian, sebuah kalimat “selaras kata dengan perbuatan”, seringkali terdengar dan mudah untuk diucapkan, tetapi tidak banyak orang yang mampu dengan konsisten melakukannya. Banyak pula yang mencoba kemudian gagal dengan banyak alasan.

Sebuah alasan yang seringkali diungkapkan oleh mereka yang belum mampu menselaraskan kata dengan perbuatan dirinya adalah “nobodies perfect” alias tidak ada orang yang sempurna.

Konon, manusia memang gudangnya khilaf dan salah. Sehingga logika nobodies perfect atau tidak ada seorang manusiapun di dunia ini yang begitu sempurna, hingga kini tetap menjadi alasan pemaaf yang  senatiasa dipakai, dipergunakan dan berlaku umum di belahan bumi manapun.

Bahkan anda boleh percaya atau tidak, jika terjadi sebuah perdebatan panjang tentang sebuah kesalahan yang baru saja atau  pernah dilakukan seseorang, dalam kontak sekejap mata, perdebatan tersebut akan segera terhenti manakala seseorang  yang melakukan kesalahan itu mengajukan pembelaan diri dengan logika nobodies perfect tadi.

Dengan kata lain jika kemudian seseorang tidak mampu untuk menselaraskan kata dengan perbuatannya, maka pembelaan diri dengan logika nobodies perfect menjadi senjata utama dan pertama dari seseorang yang inkonsistensi tersebut.

Pertanyaannya adalah seberapa besar usaha yang selalu kita lakukan untuk menjadi pribadi yang mampu menselaraskan kata dengan perbuatan? Seberapa sering kita kemudian bangkit dari kegagalan dan terus mencoba utnuk menjadi pribadi yang mampu menselaraskan kata dengan perbuatan?.

Menselaraskan kata dengan perbuatan memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Terlebih jika kita berada dalam sebuah lingkungan yang heterogen, yang seringkali menuntut kita untuk menjadi sebuah pribadi yang berbeda dari yang kita cita-citakan. Membuat kita kembali ke titik nol dan kembali bernegosiasi dengan kegagalan.

Sesungguhnya ada banyak keuntungan yang dapat diperoleh seseorang manakala ia menjadi pribadi yang mampu menselaraskan kata dengan perbuatan. Sayangnya dalam interaksi sosial sosok pribadi ini seringkali menjadi tidak menarik bahkan ditolak keberadaannya. Hal ini disebabkan oleh karena prilaku seseorang yang menginginkan pribadinya, menjadi pribadi yang  selaras dengan kata dan perbuatan  itu menjadi kepribadian yang mengancam eksistensi kepribadian sosial lainnya. Dengan kata lain pribadi ini adalah pribadi yang beresiko.

Namun demikian dalam suatu kondisi sosial masyarakat yang tengah sakit,  sosok pribadi yang mampu menselaraskan kata dengan perbuatan adalah sosok yang selalu dinanti dan diharapkan oleh masyarakat disekitarnya. Pribadi-pribadi yang demikian itu akan menjadi figur pemimpin yang ideal sekaligus, menjadi ikon dari sebuah perubahan.

Pribadi yang mampu menselaraskan kata dengan perbuatan adalah pribadi yang langka.

Apakah anda salah satunya?

2 Komentar

  1. Tampaknya tidak ada orang seperti itu saat ini. Mungkin baru akan lahir seribu tahun lagi hehehe…


Tulis sebuah Komentar

*
*