Hampir dua pekan sejak pemilu legislatif digelar 9 April yang lalu, meski perhitungan KPU belum final dan terasa semakin melambat, mayoritas masyarakat mempercayai Partai Demokrat adalah partai pemenang pemilu legislatif kali ini.
Hingga hari Senin 20 April 2009, partai demokrat tetap unggul di urutan pertama dengan perolehan suara 21,15 %, disusul oleh Partai Golkar diurutan kedua dengan perolehan suara 15,08 persen, kemudian PDIP 14,54%, PKS 7,60%, PAN 5,79%, PPP 5,54% dan PKB 4,70%. (sumber detik.com.)
Perolehan suara yang sangat dramatis dan fantastis dari Partai Demokrat tetapi tidak terjadi pada partai-partai besar yang selama ini memiliki basis massa yang kuat, seperti Partai Golkar, PDIP, PKS,PAN, PPP dan PKS, membuat prediksi-prediksi koalisi partai dalam mengusung nama-nama pasangan Capres dan Cawapres berubah 120 derajat.
Sementara itu menarik untuk mencermati langkah-langkah politik yang saat ini tengah dilakukan oleh PKS.
Perolehan suara PKS yang tidak cukup signifikan, membuat pendirian partai dengan slogan ”DPR Bersih” ini terlihat gamang.
Di satu sisi Partai yang di komandani oleh Tifatul Sembiring ini sangat menginginkan berkoalisi dengan Partai Demokrat, tetapi dengan syarat minus Partai Golkar dan PDIP, di sisi lain PKS tidak mungkin berdiri sendiri sebagai partai oposisi dan tidak mungkin pula berkoalisi dengan partai gurem.
Kita mungkin masih ingat bagaimana roman muka dan reaksi para elite partai konstentan pemilu legislatif, setelah hasil Quick Count yang di release oleh beberapa lembaga survey menunjukkan angka-angka yang diluar prediksi banyak pihak.
Roman muka yang tidak dapat menunjukkan kegembiraan yang berarti. Bahkan Partai Demokrat sebagai partai pemenang versi quick count terus memilih langkah-langkah yang demikian berhati-hatinya. Hal ini terlihat dari setiap statement yang keluar dari para pucuk pimpinan partai berlambang berlian itu.
PKS pun kini berada dipuncak kegamangan itu. Perolehan suara PKS yang jauh dibawah PDIP tentu saja sangat tidak menggembirakan untuk koalisi bertajuk Golden Bridge.
Memang belum ada kata bulat dari PKS apakah mereka akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Keputusan akan diambil pada rapat Majelis Syuro 25-26 April. Tapi PKS sudah menyiapkan 8 nama untuk menjadi pendamping SBY. 8 Nama yang akan disodorkan itu yakni Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring, Anis Matta, Salim Segaf Aljufri (Dubes RI di Arab Saudi), Irwan Prayitno, Suharna S, Sohibul Iman, dan Surahman Hidayat.
Meskipun PKS, melalui Sekjennya Anis Matta sempat mengancam akan keluar dari koalisi Partai Demokrat (PD). Tapi hal ini dinilai hanya pernyataan pribadi. Presiden PKS Tifatul Sembiring, kini meminta kadernya menahan diri.
Meskipun demikian, dari wacana yang berkembang di antara Kader PKS. PKS akan lebih senang jika wacana koalisi Golden Triangle dilanjutkan. Hal ini akan semakin mempertegas pertarungan antara partai reformis dan partai lama. menurut Partai PKS, kalau golden triangle serius, nanti akan bagus karena Golkar, PPP dan PDIP sebagai parpol lama akan berhadapan dengan PD, PKS, PAN, partai yang lahir dari buah reformasi.
Persoalannya jika Partai Demokrat hanya menggandeng PKS dan PAN saja, hal tersebut akan menimbulkan resiko politik yang lain. Partai Demokrat tentu saja jeli dengan keadaan ini.
Menurut hemat penulis PKS untuk 5 tahun kedepan lebih baik berdiri sendiri sebagai partai opposisi. Tidak perlu mengekor, atau ngotot tetap berada dalam lingkaran kekuasaan pemerintahan.
Hal ini didasarkan beberapa alasan. Yaitu:
pertama, Waktu lima tahun kedepan bagi PKS dapat dioptimalkan dan dimaksimalkan sedemikian rupa, untuk kembali mencetak-kader-kader PKS yang baru dan penuh loyalitas terhadap partai. Hal ini akan menumbuhkan dan menambah basis massa real PKS di pemilu legislatif 5 tahun kedepan (2014).
Kedua; waktu lima tahun kedepan (2014) adalah waktu yang tepat untuk PKS, untuk mencari sesosok figur yang tepat dari partai PKS yang dapat diterima oleh semua kalangan. Persoalan dalam tubuh PKS selama ini dalam pengamatan penulis adalah, tidak adanya sosok pemimpin dari PKS yang dikenal dan mampu diterima secara nasional. Bagaimanapun figur seorang pemimpin sangat berkolerasi dengan perolehan suara partai demokrat dalam pemilu legislatif kali ini. Sosok SBY diterima oleh banyak kalangan. Dan PKS belum memiliki figur-figur seperti SBY.
Ketiga; dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden lima tahun kedepan, penulis melihat akan kembali terjadi krisis kepemimpinan nasional. Pasca SBY, bangsa ini akan kembali disodorkan calon-calon presiden berwajah lama. Jika saja dalam lima tahun kedepan PKS mampu mencari sosok/figur yang sangat ideal untuk memimpin Indonesia, bukan tidak mungkin PKS akan menjadi partai pemenang pemilu selanjutnya.
Keempat; jika PKS memilih untuk tidak berada dalam pemerintahan hal ini akan membuat kedudukan PKS menjadi jelas. Sehingga nantinya dalam Pileg maupun Pilpres di tahun 2014 PKS dapat memberikan tawaran perubahan alternatif kepada masyarakat dengan lebih percaya diri.
Namun menjadi pertanyaan besar kemudian adalah apa yang akan diputuskan oleh Majelis Syuro Partai PKS 25-26 April mendatang. Apakah PKS tetap pada pendiriannya yaitu hanya menginginkan koalisi Gloden Triangle, dan memilih untuk keluar dari koalisi jika baik Partai Golkar dan PDIP berada dalam koalisi, atau memilih untuk turut serta mengekori partai pemenang pemilu, meskipun koalisi yang nanti dibangun tidak lagi Golden Bridge melainkan golden long bridge.
Dan sebuah pertanyaan yang lebih penting dari persoalan koalisi bagi-bagi kekuasaan tersebut adalah sampai kapan rakyat yang beberapa hari yang lalu diperebutkan suaranya itu, disuguhi oleh beragam tontonan dan membaca berita tentang bagi-bagi kekuasaan dari seluruh elit politik di negeri ini.
Sebab rakyat tak begitu peduli terhadap siapa yang jadi presiden atau wakil presiden, yang mereka perdulikan adalah apakah kehidupan perekonomian mereka akan semakin lebih baik atau lebih parah dari sebelumnya. Salam Trustdeenatha.20042009.