Adakah manusia di atas muka bumi ini yang tidak pernah melakukan kesalahan di sepanjang hidupnya?
Adakah manusia di atas muka bumi ini yang senantiasa sempurna di sepanjang hidupnya?
Tentu saja tidak ada.
Kesalahan merupakan sesuatu yang alamiah. Kesalahan dapat terjadi baik disadari mupun tidak disadari. Kesalahan merupakan awal dari kesempurnaan.
Sementara sesuatu yang disebut sempurna suatu ketika menciptakan kesalahan dalam dirinya.
Demikianlah proses ini terjadi terus- menerus dan berulang. Kesalahan dan kesempurnaan menjadi dua sisi mata uang logam.
Namun, entah mengapa dalam banyak hal, kesalahan menuai protes, kesempurnaan menuai pujian.
Bahkan kesempurnaan seringkali dipaksakan keberadaannya, hanya sekedar untuk memenuhi hasrat akan keinginan dan kepuasan.
Di dalam realitas sosial, disadari atau tidak, seringkali kita mencintai kesempurnaan secara berlebihan dan membenci kesalahan dengan penuh totalitas.
Dalam banyak hal, mencintai menuai kekaguman dan membenci menuai caci maki.
Mencintai itu positif dan membenci itu negatif.
Sementara, sesuatu yang disebut mencintai suatu ketika menghadirkan kebencian dalam dirinya.
Mencintai dan membenci merupakan kesalahan dan juga kesempurnaan.
Demikianlah, kehidupan ini berjalan dalam koridornya.
Sang Abadi menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan dengan sebuah maksud.
Sementara, manusia memahaminya dengan menciptakan lambang-lambang.
Lambang-lambang yang rumit dan sukar dipahami.
Lambang-lambang dari proses-proses pemikiran yang tanpa hak.
Lambang-lambang yang manusiawi.
Lambang-lambang yang natural.
Dalam lambang-lambang kemanusiawian, kesalahan bukanlah kesalahan, kebenaran bukanlah kebenaran. Cinta bukanlah cinta, benci bukanlah benci. Rindu bukanlah rindu, dendam bukanlah dendam. Hidup bukanlah hidup, mati bukanlah mati. Aku bukanlah aku, kamu bukanlah kamu. Kita bukanlah kita, mereka bukanlah mereka. Kursi bukanlah kursi. Meja bukanlah meja. Tuhan bukanlah tuhan.
Demikianlah seterusnya… bukanlah seterusnya.
Trustdeenatha 18030901:01bbwi