Lewati navigasi

Arsip Tag: nama

Perkenalkan, Namaku: Mesum Nista Hedoningrat!

Cerpen oleh Trustdeenatha

Perkenalkan, namaku mesum…

Mesum Nista Hedoningrat. Aku dilahirkan dalam kesuraman cahaya, di suatu remang malam, saat hujan mendera bumi. Saat kau menarik selimut dan tidur lebih pulas. Aku terlahir dari rahim keterpaksaan, sebagai buah cinta terlarang dari bapak dan ibuku. Lahir dari pergaulan mereka yang tak bertata krama, abnormal di luar dogma.

Saat aku beranjak dewasa, kakekku pernah satu kali bercerita kepadaku, bahwa aku tidak lahir dalam kesuraman cahaya, sebagaimana cerita ibu dan bapakku.

Terungkap kemudian, dalam versi cerita kakek, ternyata, aku lahir dari gemerlapnya cahaya, kerlap-kerlip lampu yang berpijar acak, seiring dentum musik yang bertalu.

Tetapi tetanggaku membantah keterangan kakek, tetanggaku mengatakan aku lahir di tempat bapak dan ibuku kost sewaktu mereka masih kuliah.

Tetanggaku yang lain mengatakan, kalau aku lahir di lift kantor, di kursi belakang mercedes, bangku taman… bahkan, di antara ilalang di alas selembar koran.

Sementara komentar liar menohokku, Miun tukang ojek langgananku, memberitahuku secara diam-diam, jika aku lahir di ketinggian hotel berbintang  dan apartemen mewah jangkung di pusat kota.

Beberapa waktu lamanya, aku sibuk mencari tahu asal-usulku, mereka yang kutanya, menjawab dengan berbeda. Seolah-olah aku tak memiliki asal-usul yang jelas…

asal-usul yang bisa di terima dengan nalarku. Logikaku, juga perasaanku.

Tentu saja, dalam beberapa waktu, aku sangat menderita dengan setiap kabar buruk tentang diriku.

Hingga saat ini, aku sendiri tak begitu tahu, sebab dan alasan, apa dan mengapa, ibu dan bapak memberikan namaku seperti itu.

 Sebuah nama yang sering memojokkanku. Mencibirku bahkan merampas hak-hak kebebasanku,   hak –hak kemanusiaanku. Menjadikanku laksana sampah yang menjijikkan.

*****

Dulu, dalam kesendirianku, dalam keterkucilanku dari peradaban, terkadang aku memprotes tindakan bapak dan ibu. Sebab nama yang mereka berikan untuk ku, demikian tercela , sehingga  menyiksa batinku. Membuatku tumbuh dan berkembang dengan tidak wajar. Menjadikanku olokan dan tertawaan sebayaku.

Aku demikian tersiksa, batinku hancur!…

Apalagi sekarang… aku memiliki kepribadian ganda. Kepribadian yang sama-sama menyiksanya dengan namaku. Kepribadian yang abnormal. Persis tingkah laku bapak dan ibuku yang bejat, yang semakin menjadi-jadi, di usia mereka yang semakin senja.

Sekarang… seiring bertambah usiaku, aku semakin tegar, aku tak lagi peduli akan asal-usul itu, juga dengan  pendapat orang akan namaku. Persetan dengan semuanya.

Aku tetaplah Mesum.

Mesum Hedoningrat, sang petualang. Mesum Hedoningrat, sang nabi.

Nabi baru untuk generasi-generasi yang mengikuti gaya hidupku, kebebasanku dan surga duniaku yang semu.

Aku adalah pemimpin massa yang sejati, karena tuhan telah menciptakan takdir ku itu untukku, sama seperti Tuhan menciptakan takdir untuk kalian. tuhan lah yang memberikan kehormatan dan gelar nabi itu kepadaku, sama seperti Tuhan memberikan kehormatan pada kalian.

Kemesuman adalah aktivitas keseharianku. Kemesuman telah menjadi jalan hidupku, rutinitasku, sebuah pilihan sikap bagiku.

Pilihan untuk keluar dari belenggu tingkah dan pola masyarakatku yang cenderung membosankan tanpa warna. Masyarakatku yang hanya pintar menghakimi. Masyarakat ku yang kaku. Masyarakat ku yang juga berkepribadian ganda.

Masyarakat yang membenci sekaligus mencintaiku. Menolakku tapi lalu mencariku. Menghujatku tapi juga membelaku. Masyarakat yang ambigu dan dungu.

*****

 Di usiaku yang semakin bertambah itu pula.

Entah dari mana datangnya…

Dan… entah mengapa… aku begitu senang melihat masyarakatku marah lalu bertengkar sebab diriku. Sebab mesumku yang mempesona.

Aku senang, mereka marah dan bertengkar sebab nista yang ku torehkan pada pagar halaman mereka.

Aku senang, mereka marah dan bertengkar karena mereka tak lagi mampu mengawasiku.

Aku senang pada akhirnya mereka lebih memilih diam dan bungkam.

Semakin hari, semakin ku nikmati kemesumanku. Kemesuman yang kutebar di sepanjang jalan, di setiap sudut kota, di setiap pintu dan jendela yang tak terjaga dengan seksama.

Semakin hari mata lamurku semakin jeli. Aku semakin menikmati penantianku untuk mereka yang ambigu dan dungu itu.. menanti saat mereka keluar dari pagar halaman, mengintai mereka di persimpangan jalan, lalu menikam dinding hati mereka saat kesempatan itu datang.

Menikamnya hingga hitam jelaga memenuhi hatinya. Hingga kata sesal terlontar sebab bercinta denganku. Hingga kemudian mencaciku, mengutukku, tapi beberapa saat kemudian kembali merengek menginginkan kemesumanku.

Aku menjadi demikian piawai. Donasipun mengalir tanpa ku minta.

*****

Waktu pun berlalu… pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi sebab pesona mesumku, menarikku ketengah lingkaran setan.

Aku pun segera menjadi pusat perhatian, terkenal dan diperhatikan.

Aku menjadi narsis, berumur panjang.

Demikianlah aku…

aku dan riwayat hidupku yang singkat, padat lagi berisi.

Demikianlah aku, Mesum Nista Hedoningrat, sang petualang, nabi yang agung, nabi yang kini tengah santai menjalani hidup, dengan segelas wine dan mariyuana yang menyala.

Inilah aku, Mesum Nista Hedoningrat, potret yang kini di sembah, di puja dan di cintai berbagai kalangan.

Inilah aku, Mesum Nista Hedoningrat, di mana aku menjadi ikon seni dan kreatifitas, menjadi hak asasi manusia, menjadi watak dan prilaku bangsa. Menjadi karya cipta dan paten.

Aku telah menjadi hasrat terliar dan terluar dari mu.

Aku, Mesum Hedoningrat kini tengah menikmati hidup. Menikmati jerih payah yang tak sia-sia.

Menikmati mereka yang membutuhkan kehadiranku, keberadaanku, eksistensiku, bahkan sekedar menjadikanku sebuah topik.

Topik lusuh dan usang, namun  senantiasa hangat untuk diperbincangkan, dalam beratus bahkan berjuta forum.  

Forum untuk berbantah-bantahan. Forum yang tak jemu-jemu mengulang-ulang pertanyaan yang sama tentang kehadiranku, keberadaanku juga eksistensiku.

Eksistensiku sebagai seorang peminat, sebagai pemerhati.  

Eksistensiku sebagai seorang praktisi, teoritisi, sekaligus pakar.

Pakar dalam tingkah laku ku yang penuh kemesuman

*****

Hemmmm,… sekarang, aku benar-benar sangat menyadari, bila wajah mesumku, pesona mesumku, pikiran mesumku, otak mesumku dan tingkah laku mesumku itu, adalah potensiku, sumber kekuatanku yang luar biasa nistanya untukku.

Nistaku yang kutaburkan di sepanjang usiaku, secara perlahan  membius dan menghipnotis mereka yang kemarin menghinaku, mencaciku dan menghujatku, sekarang berkembang menjadi pengikutku yang setia.

Pengikutku yang penuh loyalitas, yang senantiasa akan ku perdaya dengan segala nikmat dan surga milikku.

Nikmat dan surga yang perih pedih!.

Dan kalian tak perlu cemburu dengan semua hal itu !.

Cemburu manakala seseorang menjadikanku mesin keruk atas harta dan kekayaan mereka  yang berlimpah ruah. Cemburu manakala koran dan majalah laku keras sebab foto-fotoku ada di halaman sampul depan.  Cemburu manakala rating stasiun-stasiun televisi meningkat tajam sebab tayangan video durasi pendek  tentang kemesumanku.

Cemburu, manakala Google mengarsipkan kemesumanku dengan baik, agar nanti dapat ku bagi-bagikan kepada anak-cucumu.

Cemburu sebab ceritaku lebih menarik ketimbang khotbah dan pidato politikmu yang penuh bual itu.

Bahkan….!  Cemburu manakala seorang pejabat pemerintah, seorang wakil rakyat, seorang jenderal, sorang politisi, seorang public figure, seorang anak bau kencur dan seorang yang kau kenal, bersimpuh dan bersujud di sela selangkanganku yang ranum itu.

Tak perlu cemburu sebab kalian ambigu. Juga dungu.

Kemesumanku adalah pilihanku yang bodoh lagi cerdas.

Meskipun demikian, aku percaya, keberadaanku memberikan keseimbangan baru, kemesumanku pada akhirnya akan mendatangkan kebahagiaan.

Kebahagiaan untuk kalian renungkan… Ha…ha…ha…ha…

Inilah aku, Mesum Hedoningrat, petualang dan nabi yang agung…  lahir tanpa akal. Lahir tanpa hati. Lahir tanpa jiwa. Lahir tak mengenal rasa.

Inilah aku, mesum Hedoningrat, yang telah mengosongkan bergelas-gelas wine bertahun lalu, tuk sekedar membuatku terus terjaga dari datangnya pagi.  

Pagiku yang baru. Pagi yang indah. Pagiku yang cerah.

Pagi penuh cahaya untuk Mesum Nista Hedoningrat mengintai dan mengincar hati kalian, sesaat keluar pagar halaman dan berada dipersimpangan jalan.

Mengincar seseorang yang kalian kenal, kalian cinta dan kalian puja, untuk seketika, ku ubah agar menjadi pengikut setiaku, yang senantiasa berlutut, menyembah dan mengabdi kepada selangkanganku yang ranum bertabur rindu.

 Belantarakata Trustdeenatha

Jendela kamar

08032009

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.