Boikot Pemilu (pilpres) yang digulirkan oleh kelompok “Teuku Umar” yang dimotori oleh Megawati (PDIP), Wiranto (Hanura), Prabowo (Gerinda) dan Gus Dur, muncul didasarkan alasan persoalan carut-marutnya Daftar Pemilu Tetap pada Pemilihan Legislatif 9 April yang lalu. Meskipun baru sebatas wacana, bola panas boikot pemilu telah menggelinding sedemikian rupa dan menambah panjang daftar polemik dan keabsahan pemilu legislatif 2009.
Harus diakui Pemilu legislatif 2009, yang telah menghabiskan dana milyaran rupiah itu, memang diselenggarakan dengan banyak kekurangan di sana-sini.
Dan tentu saja, cukuplah bagi mereka yang kalah tetapi hanya terpaut beberapa persen saja dari partai pemenang pemilu 2009, alasan DPT yang carut-marut itu, dijadikan sebab mendasar dari berkurangnya perolehan suara atau bahkan kekalahan dalam pemilu legislatif 2009, serta dijadikan landasan berikir untuk melakukan boikot pemilu (pilpres) mendatang.
Sampai pada titik ini sah-sah saja wacana boikot pemilu (pilpres) itu digulirkan, sebagai bentuk protes terhadap penyelenggara pemilu dan juga hasil-hasil pemilu.
Namun demikian, sangat disayangkan jika bola panas ini terus menggelinding tak tentu arah.
Sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang awam terhadap dinamika politik, tentu saja pernyataan boikot pemilu merupakan sebuah wacana yang sangat kontraproduktif terhadap demokrasi itu sendiri.
Boikot pemilu merupakan pernyataan yang sangat tidak bijaksana, terlebih jika dikeluarkan oleh mereka yang disebut elite politik atau oleh mereka yang mengaku negarawan. Boikot pemilu tentu saja tidak mencerminkan ciri-ciri kenegarawanan.
Bagaimanapun, terlepas dari persoalan apakah DPT Pileg telah diskenariokan sedemikian rupa atau memang demikian adanya, toh, persoalan DPT tidak hanya milik partai yang kalah. Persoalan DPT bukan hanya persoalan KPU semata.
Persoalan DPT adalah persoalan yang melanda semua partai dan caleg peserta pemilu legislatif kemarin. Persoalan DPT merupakan persoalan seluruh masyarakat pemilih yang telah memiliki hak pilih di negara ini. Bahkan persoalan bagi mereka yang kecewa karena dipaksa untuk Golput.
Dan sangat celaka dan sangat tidak bijaksana lagi jika kemudian boikot pemilu juga berarti meniadakan suara-suara rakyat yang telah diberikan kepada partai-partai yang melemparkan wacana boikot pemilu tersebut.
Salah-salah boikot pemilu akan menjadi bumerang bagi kelompok “Teuku umar” dan menguntungkan bagi yang lainnya.
Sebagai salah satu bagian dari masyarakat yang awam terhadap politik, penulis berpandangan, kekalahan dalam pemilu legislatif yang diderita oleh kelompok Teuku Umar, 9 april yang lalu, bukanlah akhir dari segalanya.
Penulis berpandangan jika (Mega, Prabowo, Wiranto dan Gus Dur) mau sedikit dewasa, arif dan bijaksana dalam melihat persoalan DPT ini. Bukan tidak mungkin persoalan DPT merupakan sebuah momentum dalam menggalang kekuatan baru, sehingga dapat dijadikan “amunisi” dalam kampanye Pilpres mendatang. Persoalan DPT dalam pileg merupakan anugerah dan berkah politik yang luar biasa.
Jika saja aku seorang Mega, atau Prabowo, atau wiranto atau aku adalah seorang Gus Dur, maka stressing yang saat ini diberikan terhadap persoalan DPT dan hasil pemilu legislatif, harus segera di ubah.
Stressing atau perhatian, energi, sumber daya dan konsentrasi yang lebih besar (yang pada saat ini diberikan pada persoalan DPT Pileg dan Hasil Pileg) mestilah dengan segera dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya diberikan pada Pilpres mendatang.
Memberikan konsentrasi yang lebih besar kepada DPT Pilpres, tidak hanya produktif tetapi juga menunjukkan sebuah mental politik yang positif dan kearifan budi pekerti dari seorang negarawan
Jika saja aku adalah salah satu dari mereka, maka aku akan segera mengambil langkah-langkah strategis juga monitoring, agar persoalan DPT pada pemilihan legislatif menjadi clearly untuk pemilihan presiden mendatang.
Membenahi dan memperjuangkan DPT yang clearly, tentu saja akan membawa pengaruh positif terhadap citra politik.
Bahkan jika dengan DPT pilpres yang clearly itu tetap mengalami kekalahan, toh, sejarah bangsa ini akan mencatat dengan sebuah catatan.. “meskipun kalah dalam pemilihan pilpres 2009, partai A telah menggoreskan tinta emas bagi sejarah pemilu direpublik ini, karena telah memastikan, pilpres 2009 belangsung secara bla..bla.bla..bla.bla… dan seterusnya..dan seterusnya… “
Bagiku catatan tersebut adalah sebuah point besar.
Sayangnya aku bukanlah mereka…
Lagi pula mereka bukan hendak mengumpulkan point khan?
Salam Trustdeenatha. 21092009.